Sabtu, 15 Desember 2007

MASALAH BESAR DIANGGAP SEPELE

oleh:Ary Talaohu


konflik antar entin dan antar umat beragama dimaluku akhir-akhir ini adalah kelanjutan proses panjang yang kini menjadi tugas kita semua untuk menuntaskannya। Terhadap eskalasi konflik itu, orang bertanya-tanya :bukankah konflik itu dimulai dari perkara yang sering kita perkecil, yaitu dari soal 'uang receh' yang di pertengkarkan oleh orang-orang kecil pula(kernet dan penumpang angkutan kota)??'kebetulan' disana terkait marka kelas, etnik dan juga agama, maka jadilah soal 'kecil' itu membesar dan tak terkendali. Kini nyata bahwa semua itu bukanlah soal kecil. Jadi yang bermasalah adalah wacana kita yang cenderung meremehkan soal 'uang receh' yang diperebutkan oleh orang-orang kecil itu. Kita harus mengubah perspektif wacana kita ke perspektif mata orang kecil,

homa yang di mangsa ido. Dari sana kita akan melihat, bahwa 'uang receh' itu urusan besar. Hidup orang mereka dianggap pecundang (baca orang-orang kala), karena kebrhasilanya mendapatkan uang receh yang di buang (kerena dianggaptidak bernilai) oleh para kelas menengah diatasnya. Warga menengah atau perantara ini di dominasi oleh para pendatang, pengembara, dan opurtunis. Lagi-lagi mereka seperti ikan ido yang mengembara dilautan atau seperti para pengemudi mobil dan pelintas jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainya di seluruh indonesia. Mereka membuang 'uang receh' untuk mengusir peminta-minta, pengamen agar tisak mengores mobilnya atau menggangu dirinya. Mereka memberi untuk mengamankan jalan untuk meraih keuntungannya sendiri...


wajah manusia maluku adalah potret wajah orang-orang kalah. Mereka jadi pecundang karena tragedi sejarah. orang-orang maluku menjadi korban tombak bermata tiga atau trisula yang ditusukan oleh duet modal dan kekuasaan politik. Ketiga ujung tombak itu terdiri dari

  1. investasi di sektor ekstraktif yang bertujuan menguras kekayaan sumber alam( hutan, tambang, laut) demi akumulasi modal.

  2. Proses depolitisasi lembaga-lembaga dan organisasi rakyat demi pemusatan kekuasaan.

  3. Penjinakan para penghuni rimba atau para warga tempatan melalui pemaksaan nilai-nilai 'asing' yang merasuk lewat agama-agama dunia, dan sekarang lewat apa yang disebut agama sekuler baru, yaitu negara bangsa dan pembangunan ekonomi.

pada saat trisula seperti yang digambarkan diatas menancap kuat, para warga menengah itu meraih keuntungan lebih besar dari pusat kekuasaan. Tetapi kekuasaan pusat lumat disambar hiu raksasa-yang sering disebut GLOBAL- maka warga menengah itu cenderung menggigit dan membebani mereka yang sebelumnya selalu jadi pecundang. Lalu, ketika ketahanan dan kesabaran para warga tempatan, korban dibawah korban lainnya itu terlampaui, maka terjadilah amukan 'si kecil' tarhadap 'si besar', komunitas tempatan terhadap pendatang [misal Ambon lawan Bugis, Buton,Makasar(BBM)], daerah melawan pusat-misalnya peristiwa RMS, dan seterusnya. Pertengkaran di Maluku beberapa tahun lalu adalah manifestasi dari persoalan 'uang receh'..namun remifikasi strukktur sosial merumitkan konflik 'kecil' itu jadi tak terkendali, karena konflik antara kernet dan penumpang angkutan kota itu memang tidak remeh seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Komplikasi karena marka-marka etnik, keagamaan dan kepentingan ekonomi-politik yang tidak dapat dibendung oleh adat dan ritual lokal(misalnya pela gandong) yang sumberdaya telah dibuat (oleh penertasi trisula kekuasaan) tergantung pada kekuasaan dari pusat yang sedang meleleh......

penetrasi trisula kekuasaan itu mengalami stagnasi(kemandekan), justru karena dukungan kekuatan pasar global mangkir. Kemandegan terjadi bukan karena masyarakat tempatan, tetapi justru pada pusat yang selama ini mengklaim dirinya sebagai pemrakarsa pembangunan..








PATIMURA KAPITAN SERIBU RUPIAH
oleh:Awaludin Tuahena


Siapa sih yang tidak mengenal uang atau duit? Kita semua tentu tahu dan pernah meggunakannya, anak usia balita-pun kadang sudah memahami fungsi uang sebagai alat tukar, untuk membeli permen, coklat dan lain sebagainya. Secara fisik, uang yang lazim kita gunakan adalah berupa selembar kertas dan sekeping logam bulat.

Namun, pernakah kita berfikir! kenapa disetiap lembaran uang kertas atau recehan uang logam selalu dipasang gambar wajah para pahlawan atau tokoh-tokoh sejarah suatu Negara. Dibelahan Negara manapun didunia ini, kita pasti menemukan fenomena tersebut. Di Amerika Serikat Misalnya, hampir sebagian besar uang kertas di Negara tersebut memasang wajah tokoh-tokoh pendiri Negaranya dari George washington, Tommas Jefferson, Jhony Adams, dll.

Di Negara kita, uang lembaran seratus ribu Rupiah (Rp. 100.000) sebagai batas nominal terbesar uang kertas tercetak wajah Tokoh Proklamator bangsa ini; Soekarno dan Hatta, sedangkan di lembaran lima puluh ribu (Rp.50.000) ada wajah I gusti Ngurah Rai dari Bali yang menggantikan wajah mantan Presiden Soeharto beberapa waktu lalu. Di lembaran Rp 20.000 ada Otto Iskandar Dinatta, Rp.10.000 ada Sultan Mahmud Badarudin II, Rp.5000 ada Tuanku Imam Bonjol, dan nominal yang terkecil adalah lembaran uang Rp.1000 ada wajah Kapitan Pattimura, Sang pahlawan dari tanah Maluku.

Disinilah letak Fenomenanya sekaligus mengundang Kontroversial. Bank Indonesia (BI) sebagai Lembaga Tertinggi yang mempunyai Hak Mencetak dan Mengedarkan uang di Negara kita, tentu memiliki alasan kuat dan pendapat tersendiri mengenai pahlawan mana yang dipilih, penempatan urutan pahlawan dalam setiap lembaran uang kertas dari nominal terendah sampai nominal terbesar.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, Filosofis dari Bank Indonesia (BI) yang memilih sebagian pahlawan dan meniadakan pahlawan yang lain dalam mencetak lembaran uang kertas berwajah para Pahlawan atau tokoh-tokoh Nasional. Kenapa Soekarno-Hatta harus dilembaran Rp.100.000, dan Igusti Ngurah Rai di lembaran Rp.50.000, sedangkan Tuanku Imam Bonjol di Rp.5000 lebih rendah dibandingkan Otto Iskandar Dinatta di lembaran Rp.20.000 dan Sultan Mahmud Badaruddin II di lembran Rp.10.000. Mengapa pula Kapitan Pattimura yang dipilih untuk menjadi cover lembaran Rp.1000 yang nominalnya sangat kecil dibandingkan dengan semua Lembaran uang kertas yang ada.

Sebagai Generasi Muda Maluku, tentunya kita bangga dan sedikit heran(?). Bangga Karena Pahlawan dari tanah maluku (Kapitan Pattimura) setidaknya dihargai Heroisme-nya ketika mengusir Penjajah Belanda dari Bumi pertiwi ini. Dan Heran, Kenapa Pahlawan dari tanah Maluku ini cuma dihargai dilembaran uang Rp.1000. Apakah Kontribusi dan perjuanggannya tidak sehebat Tuanku Imam Bonjol di Lembaran Rp.5000, atau tidak setangguh Sultan Badaruddin II (Rp.10.000), Otto Iskandar Dinatta (Rp.20.000), dan I Gusti Ngurah Rai di lembaran Rp.50.000, ataukah karena Pattimura Hanyalah Pahlawan yang jauh di ujung Timur Nusantara sana, sehingga lembaran Rp.1000 sudahlah cukup dan pas untuk menggambarkan kontribusinya. (??????).

Semua orang tentu memiliki persepsi masing-masing, mungkinkah prioritas yang di pakai BI (Bank Indonesia) untuk menentukan Pahlawan mana yang dipilih menggunakan Analisa ala Michael H. Hart dalam karya Kontroversialnya "Seratus Tokoh Yang paling Berpengaruh di Dunia" dengan menempatkan urutan tokoh sesuai kontribusi dan pengaruhnya dalam mempengaruhi jalannya sejarah dunia, ataukah BI hanya asal cetak dan menentukan siapa pahlawan yang dipilih sesuai keinginannya. Secara Filosofis, kita kembalikan persolaan ini kepada BI selaku Legitimasi pemerintah untuk memproduksi uang kertas maupun uang logam.

Marilah kita berfikir kritis mengenai fenomena ini, secara Matematis 1000 x 100 = 100.000, Kapitan pattimura x 100 = Soekarno-Hatta. Logikanya ; seratus kali kepahlawanan Pattimura sebanding dengan sekali Kontribusi Soekarno Hatta untuk negeri ini, sedangkan Lima puluh kali kegigihan Pattimura mengusir penjajahan Belanda hanya sebanding dengan sekali kontribusi I gusti Ngurah Rai. Begitupun dengan Pahlawan-pahlawan lain-nya yang ada di lembaran Rp.5000, Rp.10.000. dan Rp.20.000, Pattimura memiliki Kontribusi yang kecil sekali setidaknya dimata saya selaku penulis.

Secara Matematis, Mungkin tidak ada Pemaknaan yang eksistensial, Namun dibalik makna filosofis, terlihat adanya Diskriminasi Heroisme terhadap sebagian Pahlawan Negeri ini.

Tulisan ini tidaklah mengajak kita untuk membangun sentimen kedaerahan, namun hanya sekedar komentar tentang sebuah fenomena yang ada di sekeliling kita. Banyak hal-hal kecil yang luput dari pandangan kita, akan tetapi bisa menjadi persolaan besar ketika eksistensi suatu daerah dipinggirkan. Negara Kita adalah Negara Besar yang kaya akan keragaman Budaya, suku bangsa dan Agama. Alangkah bijaknya Pemerintah melalaui BI (Bank Indonesia) melihat fenomena kecil ini sebagai sebuah masalah Fundamental, karena Keutuhan Bangsa dan Negara sesungguhnya terletak ditangan Daerah-daerah. semoga....(inohoko)

Jumat, 14 Desember 2007

Syirik ada dimana-mana
oleh: Roevhi M Salampessy


Kemaksiatan terjadi dimana-mana, dari kota-kota besar Metropolitan hingga ke pelosok-pelosok desa, menerebos setiap dinding budaya dan Agama serta Merampas sebagian besar jati diri generasi muda bangsa ini. Seakan-akan kita tak sanggup lagi, dan satu-satunya pilihan hanyalah mengikutinya. Kemaksiatan sendiri menurut para Ulama adalah perbuatan melanggar syariat Islam dalam arti yang sangat luas. Saat ini pemahaman umat tentang Islam sangatlah sedikit, sehingga sangat wajar aturan-aturan Islam yang berorientasi pada Rahmatan Lil Alamin salah diartikan dan seolah-olah dia adalah momok bagi kehidupan ini. Melihat fenomena seperti ini, sungguh sangat disayangkan siapakah yang bertanggung jawab atas semua ketidak tahuan umat tentang Isalam dan seluruh aturan-aturan hidupnya ini.

Dari sekian banyak kemaksiatan yang terjadi saat ini, mungkin yang paling parah dan benar-benar menjadi sebuah trend adalah perbuatan syirik kepada Allah SWT. Syirik sendiri menurut pengertiannya adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan Mahkluk ciptaannya. Pengertian ini sebenarnya sangat spesifik, karena kurangnya pengetahuan akan Islam, maka Syrikpun diartikan sesederhana itu, sehingga perbuatan yang nyata-nyata mengandung syrik kepada Allah SWT, dikatakan bahwa dia adalah tradisi atau budaya yang harus dilestarikan, misalnya budaya sebagian daerah di Nusantara yang berorientasi syirik dapat kita jumpai pada acara-acara ritual atau upacara-upacara adat. Upacara atau ritual di sebagian besar wilayah jawa dalam menyambut satu muharam, atau ritual-ritual lain yang sejenis, seperti selamatan atau sesembahan, pengguanaan sesajen dan membakar kemenyan, serta penaburan bunga-bunga, jelas-jelas bukan merupakan ajaran yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW.

Ini adalah penyakit dalam tubuh umat, kerangka berpikir yang menjurus kearah Politheisme, yakni sebuah doktrin metafisis yang menyatakan bahwa alam semesta bukan merupakan suatu kebetulan ataupun tanpa adanya Tuhan sebagai pencipta, melainkan banyak yang mengatur dan tidak hanya satu.

Mitologi ini dengan demikian, telah menimbulkan macam-macam perbuatan aneh dan tahayul

Sejalan dengan kemampuan meramu lamunan masing-masing masyarakat politheitis tersebut. Mitologi ini pun menjelma menjadi berbagi ajaran adat yang berakulturasi dengan Islam pada berbagai daerah di Nusantara. Sehingga muncul istilah-istilah seperti Islam adat atau Islam Kejawen.

Nabi, wali, syuhada, orang saleh, ulama dan pemimpin agama, dimitoskon sebagai pelaksana titah Dewata dalam bentuk lain, sehingga golongan masyarakat Politheis Islamisme ini sengaja meniadakan dewa-dewa dan para penyembahnya yang menjadi ciri khas Hinduisme, hanya sekedar menggantikannya dengan hamba-hamba Allah yang seluruh hidupnya yang diabadikan untuk menyebut nama Allah dan menentang penuhanan manusia. Mereka ini melakukan ritual-ritual dengan berdoa kepada selain Allah dengan alasan orang-orang suci atau wali tersebutlah yang akan menjadi perantara dengan Allah. Salah satu ajaran syirik yang sudah sangat mengakar dan mendalam pada setiap adat atau tradisi di berbagai wilayah Nusantara ini. Sehingga sangat wajar kemaksiatan terjadi dimana-mana, hanya karena ketidak pamahan umat tentang ajaran Islam yang sebenarnya.

Berkaca pada berbagai permasaalahan umat tadi, sudah saatnya kita meluruskan pemikiran-pemikiran yang keliru mengenai Islam beserta aturan-aturan hidupnya, sehingga Insyah Allah kemaksiatan yang menjadi penyebab runtuhnya moral dan ahklak umat ini, berangsur-angsur bisa menghilang dengan sendirinya dengan ditandai munculnya generasi-generasi pembaharu yang berjalan diatas rel Islam dan jalan orang-orang yang beriman.

Ya Allah, ya Tuhanku tulisan ini hanyalah sekelumit jeritan hati yang menyaksikan sendiri dengan mata kepala, begitu banyak manusia yang berbuat maksiat kepadamu, tanpa malu-malu dan Menyamakanmu dengan mahkluk ciptaanmu. Ya Allah, Ya Rabbi tulisan ini hanyalah sepenggal kata-kata yang keluar dari dasar jiwa yang paling dalam, yang menginginkan suatu kebenaran akan kekuasaanmu. Hingga hari ini ya Rabbi ya Rahim, begitu banyak manusia yang tidak peduli akan kitabmu serta ajarannya, ya Allah, dalam sembah sujudku, hanya kepadamulah aku meminta dan memohon, hanya kepadamulah Hidup dan matiku. Dan hanya kepadamulah aku menyembah. Akhirnya semoga kita semua dapat kembali ke jalan yang benar sesuai Al-Quran dan Sunah Nabi. Waulahu alam bisawab

Kamis, 09 Agustus 2007

Pedoman

Di page ini, kamu bisa menyalurkan suatu hasil karya yang berupa tulisan yang bersifat bebas dengan menggunakan bahasa yang sopan dan dapat dimengerti. Untuk bisa diPosting di page ini, kirimkan tulisan kamu ke aldhy_007@yahoo.com.sg



salam saya, inohoko






PENIPUAN MENUJU KEKUASAAN
(Seruan untuk rakyat Maluku dan Calon Kepala Daerah menuju PILKADA Tingkat I Maluku)
Oleh : Roe Salampessy

Sebentar lagi Maluku akan Memasuki gerbang Pesta Demokrasi Pemilihan Kepala Daerah Tingkat I (PILKADA I), sebuah babak baru menuju Maluku yang bebas dari konflik horisontal yang terjadi beberapa waktu lalu. Mengingat Pesta Demokrasi ini adalah yang pertama di maluku semenjak sistem pemilihan beralih ke suara rakyat secara langsung dan bukan melalui wakil rakyat, maka penyambutan Pesta ini (PILKADA) sudah disiapkan jauh-jauh hari. Suhu Politikpun memanas dalam sekejap yang berakibat rawannya konflik kepentingan. Maluku jadi perhatian publik seketika, harap-harap cemas menanti Pesta Terakbar di kawasan tersebut. opini dan analisa jadi santapan hari-hari rakyat Maluku, dari pakar politik, pemerhati sosial, kaum muda intelektual, hingga kalangan akar rumput (Rakyat kecil). Harapan tinggipun diusung beberapa kandidat untuk membawa maluku kearah yang lebih baik, harmonis, sejahtera, aman dan damai. Lobi-lobi politik pun dilakukan demi mulusnya jalan kearah kekuasaan, hingga pemilihan tim sukses yang akan menjalankan agenda besar yang bernama kampanye. Strategi di atur dan danapun disiapakan, dimualailah gerakan bawah tanah sebelum masa kampanye hingga pembentukan opini publik. Kata pepatah "Siapa yang Cepat dia yang dapat" agaknya sering dipraktekan oleh pelaku-pelaku politik dinegeri ini tanpa malu dan canggung. Masih segar dalam ingatan kita, Maluku dalam setiap Pemilihan Kepala Daerah Tingkat II (Kab-MalTeng, Kab-Buru, Kab-SBT, dll) beberapa waktu lalu, meninggalkan jejak rekam yang telah menyulut konflik horisontal antar pendukung, sehingga menimbulkan konflik terbuka yang memakan korban. Padahal semua calon dimata saya pribadi adalah politikus-politikus bermental penjahat yang kekanak-kanakan, Alasannya; sikap yang tidak Ksatria dan Legowo menerima kekalahan, dilain sisi calon yang menang dengan arogansinya tetap mempertahankan kemenangannya dengan pengerahan masa.

Belajar dari setiap kasus PILKADA didaerah lain, tampaknya sulit sekali menemukan seorang calon Kepala Daerah yang benar-benar bersih menjalankan Pesta Demokrasi ini. Penipuan, Janji Palsu, penampilan yang pura-pura Kharismatik, hingga perbuatan yang sok berjiwa sosial adalah bagian kecil dari trik-trik yang dipakai untuk merebut simpati Rakyat. Dan terbukti cara-cara seperti itu sering manjur dan mumpuni ketimbang melalui pendekatan yang bersih. usul saya kepada pasangan Calon Kepala Daerah Maluku yang akan bertarung dalam pemilihan nanti, ada baiknya gunakan saja cara-cara kotor untuk mengelabui rakyat, bohongi mereka dengan janji-janji palsu, pura-puralah berjiwa sosial dengan menyantuni wilayah-wilayah yang dianggap basis suara, saya yakin kemenangan tinggal didepan mata. Terbukti dana yang besar tak mampu memenangkan sebagian Calon Kepala Daerah yang tetap menggunakan cara-cara bersih. Rakyat kita adalah rakyat yang gampang dibodohi, pembelajaran Politik hanyalah bersifat teoritis dan wacana kosong. Untuk itu Halalkanlah segala cara guna meraih Kursi kekuasaan, pembunuhan karakter calon lawan melalui opini publik harus terus dilakukan sehingga rakyat tahu siapa yang pantas dan tidak pantas memimpin Maluku kedepan.

Kepada Rakyat Maluku yang menjadi objek dan sasaran Pesta Demokrasi ini, Tidak perlulah berharap terlalu tinggi memiliki seorang Pemimpin yang amanah terhadap suara rakyat, karena sama saja mencari jarum disetumpukan jerami. Semua Calon yang akan mengikuti PILKADA ini hanyalah penipu-penipu yang punya kepentingan. Saran saya untuk rakyat Maluku gunakanlah hak suara anda dengan bijak, apabila ada calon yang mau menggunakan
"money Politik" dalam kampanye dengan menyogok atau membayar suara, maka terimalah dana tersebut dengan bersyukur, pura-puralah bersikap manis, karena dana seperti itu hanya diterima lima tahun sekali. Setelah terpilih nanti jangan pernah berharap sang Calon akan bersikap sosial seperti itu lagi, yang ada hanyalah kepentingan Indivudu, kelompok dan Kroni-kroninya. Rakyat tidak perlu berlaku anarkis dengan cara pelampiasan emosional yang berlebihan akibat calon yang didukungnya kalah dalam pemilihan nanti, karena sasungguhnya anda (rakyat) telah menjadi objek kepentingan dari iklim Demokrasi yang terkenal ganas dalam label PILKADA.

Ajakan ini sengaja saya sampaikan, karena telah muak dengan perilaku Politikus di Indonesia pada umumnya dan Maluku pada Khususnya yang tidak sadar-sadarnya membohongi rakyat dengan janji Palsu, menipu mereka dengan orasi-orasi omong kosong dan membantu mereka dengan ketidak-ikhlasan melalui penyaluran-penyaluran
SEMBAKO dan lain-lain.
Kita tentunya berharap PILKADA Maluku jauh dari kecurangan, sehingga Calon yang terpilih nanti mampu Menakhodai kapal besar yang bernama
MALUKU ini hingga sampai pada tujuannya lima tahun kedepan. semoga..... (ROE)







Jangan pernah lupa dari mana kita berasal
oleh : Ressy Salampessy
(Didedikasikan kepada teman-teman, sahabat-sahabat, suadara-saudaraku dari pelauw)


Di era modern sikap dan perilaku masyarakat lebih dinamis, dimana banyak budaya-budaya baru yang lahir akibat proses asimilasi maupun akulturasi budaya. Chairil anwar : (berjuang untuk perubahan) mengatakan "jangan mau jadi pengecut, hidup sekali harus berarti, ada yang berubah, ada yang bertahan karena zaman tak bisa dilawan, yang pasti kepercayaan harus diperjuangkan. Kepercayaan yang dimaksud chairil adalah kepercayaan terhadap diri sendiri sehingga kita tidak menjadi orang lain.

Kita bisa mengambil hikmah dari cerita dalam kisah last samurai, dimana modernisasi yang terjadi di jepang membuat semua orang harus meninggalkan kebudayaan jepang dan memasuki gerbang baru jepang modern. Dimana terdapat Undang-undang yang melarang potongan rambut, pakaian maupun senjata seperti seorang samurai. Namun jendral Katsumoto tetap memperjuangkan semangat samurai hingga akhirnya harus mati terhormat dengan harakiri. diakhir cerita jepang waktu itu membuat suatu revolusi yang intinya jangan pernah lupa dari mana kita berasal. Dengan penghormatan terhadap budaya, jepang menjelma menjadi negara maju di kwasan asia bahkan diakui dunia. jepang kini bisa menjelma menjadi negara modern yang tidak lupa diri.

Pertanyaannya, bagaimana dengan kita???orang indonesia apabila pergi ke Amerika disaat kembali nada bicaranya semakin berat bagaikan bule nyasar sedangkan sebaliknya orang amerika yang ke Indonesia disaat kembali dia akan menceritakan keunikan indonesia tanpa harus berlagak kayak orang indonesia. lebih jauh dari pada itu bagaimana dengan kita saat merantau keluar dari kampung halaman tercinta???apakah melupakan dari mana kita berasal atau menjadi diri kita sendiri???

semoga dengan cerita diatas pembaca bisa merenung tentang siapa dirimu dan apa yang harus dilakukan ketika kita dirantau???(ECHY)








PEMBUNUH BERDARAH DINGIN BERNAMA IMPERIALISME
oleh : Ressy Salampessy

Seiring perkembangan zaman penaklukan suatu negara terhadap negara lain mengalami perubahan signifikan. Apabila di zaman dahulu penaklukan atau perluasan wilayah biasanya dilakukan dengan invasi militer secara besar-besaran sebagaimana "Alexander Yang Agung" yang mempunyai daerah kekuasaan dari Yunani, Mesir, Persia hingga mencapai India ataupun kekaisaran Romawi yang membangun suatu Imperium yang mengandalkan hegomoni terhadap bangsa lain yang hampir menguasai seluruh dataran benua biru, Afrika bagian utara hingga beberapa daerah di asia barat.

Imperialisme zaman dahulu lebih identik dengan gold, gospel dan glory. Di zaman sekarang, imperealisme mengalami suatu kamuflase yang lebih halus dalam membuat ekspansi dan eksploitasi terhadap negara lain agar menjadi sumber bahan mentah dan tempat penanaman modal sebagai kapital surplus. Negara maju atau lebih populer dikatakan negara-negara dunia pertama seperti Amerika yang menguasai Informasi dengan propaganda-propagandanya atau dengan status sebagai polisi dunia yang selalu membuat standar ganda yang dilarang digunakan oleh negara lain tetapi boleh oleh mereka sendiri(oleh Amerika). Inggris dengan kekuatan politiknya, dimana Inggris dikenal sebagai negara yang mempunyai bekas jajahan terbanyak didunia yang dikenal dengan negara-negara persemakmuran. Bahkan untuk menggambarkan kekuatan politiknya inggris dikenal adigium "Bendera Inggris selalu berkibar sepanjang masa dari terbit matahari hingga tenggelam matahari" dimana mulai dari australia-malaysia-hongkong-india dll daerah-daerah jajahan yang mempunyai dimensi waktu yang berbeda. sehingga inggris pula yang dipilih sebagai pusat waktu dunia atau GMT. Adapaun macan asia seperti Jepang yang mengusai teknologi dengan inovasi yang berbeda dengan negara-negara maju lain. seperti contoh perbedaan produksi mobil jepang, apabila mobil eropa atau amerika mahal maka mobil jepang murah. apabila mobil eropa atau amerika boros maka mobil jepang irit atau apabila mobil eropa atau amerika berat maka mobil jepang cenderung lebih ringan.

Permulaan lahirnya Imperialisme adalah negara-negara dunia pertama tersebut selalu memproduksi sesuatu namun inflasi menurun didalam negaranya sehingga berdampak pada pemborosan dan tidak maksimal memperoleh keuntungan. Oleh karena suatu lahir sistem yang merupakan wujud baru dari kapitalisme yaitu Imperialisme atau suatu sistem ekonomi mereduksi pola-pola lama pada era merkantilisme dimana yang kuat akan selalu memanfaatkan yang lemah. Imperialisme membuat negara-negara dunia pertama yang mempunyai kekuatan ekonomi, kultur, idielogi maupun agama mengekspansi dan mengeksploitasi dengan paksa sumber daya alam negara-negara dunia ketiga.

Bahkan dengan kekuatan ekonomi, negara-negara dunia ketiga mengalami suatu ketergantungan terhadap negara-negara dunia pertama. oleh karena itu, Negara dunia pertama menyadari akan bergaining position yang lemah dari negara-negara dunia ketiga sehingga dengan mudahnya mempengaruhi suatu regulasi dalam negara dunia ketiga untuk selalu memberikan jalan yang mudah bagi penghisap darah dalam menyedot semua kekayaan alamnya. sebagai contoh di Indonesia : pemerintah tidak berdaya dengan freeport yang merusak lingkungan papua, kasus minamata di teluk buyat (sulawesi uatara) yang lepas dari jeratan hukum atau pembagian blok cepu.

Dengan sistem Imperialisme seperti ini maka negara-negara dunia pertama memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. keuntungan atas Sumber daya alam yang melimpah dan biaya buruh yang rendah dll. Memang suatu sistem kapitalis dasar seperti privatisasi, globalisasi maupun neo liberalisme menjadi momok menakutkan bagi negara yang secara ekonomi politik lemah. Namun sudah ada beberapa tokoh dunia seperti ahmadinejab, Fidel castro, evo morales maupun hugo chaves yang dengan lantang menolak kapitalisme maupun imperialisme.

Imperialisme menjadi senjata mematikan di zaman sekarang dimana untuk mengusai negara lain tidak harus secara fisik seperti perang AS vs IRAK yang banyak memakan korban atau kerugian akibat resiko perang, tapi dengan melumpuhkan secara perlahan dan membuat ketergantungan sehingga suatu negara akan mati perlahan dengan serangan penyakit kemiskinan. (echy