Sabtu, 15 Desember 2007

MASALAH BESAR DIANGGAP SEPELE

oleh:Ary Talaohu


konflik antar entin dan antar umat beragama dimaluku akhir-akhir ini adalah kelanjutan proses panjang yang kini menjadi tugas kita semua untuk menuntaskannya। Terhadap eskalasi konflik itu, orang bertanya-tanya :bukankah konflik itu dimulai dari perkara yang sering kita perkecil, yaitu dari soal 'uang receh' yang di pertengkarkan oleh orang-orang kecil pula(kernet dan penumpang angkutan kota)??'kebetulan' disana terkait marka kelas, etnik dan juga agama, maka jadilah soal 'kecil' itu membesar dan tak terkendali. Kini nyata bahwa semua itu bukanlah soal kecil. Jadi yang bermasalah adalah wacana kita yang cenderung meremehkan soal 'uang receh' yang diperebutkan oleh orang-orang kecil itu. Kita harus mengubah perspektif wacana kita ke perspektif mata orang kecil,

homa yang di mangsa ido. Dari sana kita akan melihat, bahwa 'uang receh' itu urusan besar. Hidup orang mereka dianggap pecundang (baca orang-orang kala), karena kebrhasilanya mendapatkan uang receh yang di buang (kerena dianggaptidak bernilai) oleh para kelas menengah diatasnya. Warga menengah atau perantara ini di dominasi oleh para pendatang, pengembara, dan opurtunis. Lagi-lagi mereka seperti ikan ido yang mengembara dilautan atau seperti para pengemudi mobil dan pelintas jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainya di seluruh indonesia. Mereka membuang 'uang receh' untuk mengusir peminta-minta, pengamen agar tisak mengores mobilnya atau menggangu dirinya. Mereka memberi untuk mengamankan jalan untuk meraih keuntungannya sendiri...


wajah manusia maluku adalah potret wajah orang-orang kalah. Mereka jadi pecundang karena tragedi sejarah. orang-orang maluku menjadi korban tombak bermata tiga atau trisula yang ditusukan oleh duet modal dan kekuasaan politik. Ketiga ujung tombak itu terdiri dari

  1. investasi di sektor ekstraktif yang bertujuan menguras kekayaan sumber alam( hutan, tambang, laut) demi akumulasi modal.

  2. Proses depolitisasi lembaga-lembaga dan organisasi rakyat demi pemusatan kekuasaan.

  3. Penjinakan para penghuni rimba atau para warga tempatan melalui pemaksaan nilai-nilai 'asing' yang merasuk lewat agama-agama dunia, dan sekarang lewat apa yang disebut agama sekuler baru, yaitu negara bangsa dan pembangunan ekonomi.

pada saat trisula seperti yang digambarkan diatas menancap kuat, para warga menengah itu meraih keuntungan lebih besar dari pusat kekuasaan. Tetapi kekuasaan pusat lumat disambar hiu raksasa-yang sering disebut GLOBAL- maka warga menengah itu cenderung menggigit dan membebani mereka yang sebelumnya selalu jadi pecundang. Lalu, ketika ketahanan dan kesabaran para warga tempatan, korban dibawah korban lainnya itu terlampaui, maka terjadilah amukan 'si kecil' tarhadap 'si besar', komunitas tempatan terhadap pendatang [misal Ambon lawan Bugis, Buton,Makasar(BBM)], daerah melawan pusat-misalnya peristiwa RMS, dan seterusnya. Pertengkaran di Maluku beberapa tahun lalu adalah manifestasi dari persoalan 'uang receh'..namun remifikasi strukktur sosial merumitkan konflik 'kecil' itu jadi tak terkendali, karena konflik antara kernet dan penumpang angkutan kota itu memang tidak remeh seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Komplikasi karena marka-marka etnik, keagamaan dan kepentingan ekonomi-politik yang tidak dapat dibendung oleh adat dan ritual lokal(misalnya pela gandong) yang sumberdaya telah dibuat (oleh penertasi trisula kekuasaan) tergantung pada kekuasaan dari pusat yang sedang meleleh......

penetrasi trisula kekuasaan itu mengalami stagnasi(kemandekan), justru karena dukungan kekuatan pasar global mangkir. Kemandegan terjadi bukan karena masyarakat tempatan, tetapi justru pada pusat yang selama ini mengklaim dirinya sebagai pemrakarsa pembangunan..








Tidak ada komentar: